Buku yang Menyalakan Otak!

Mengimpikan Buku Pelajaran yang Menyenangkan dan Mampu Menyalakan Otak

Oleh Hernowo [CEO Mizan Learning Center]

Saya telah bekerja selama 22 tahun di Penerbit Mizan. Selama hampir belasan tahun, saya belajar secara khusus tentang bagaimana membaca dan menulis serta “mengemas” buku sehingga buku itu dapat membangkitkan selera seseorang untuk membaca dan memahaminya. Saya ingin menggunakan kemampuan saya yang saya pelajari di Penerbit Mizan ini untuk menyoroti buku pelajaran yang digunakan di sekolah-sekolah. Secara sangat khusus, saya ingin membahas soal “konteks” (bagaimana menyajikan dan mengemas materi buku pelajaran) dan bukan soal “konten” (materi pelajaran itu sendiri).[1]

Saya beranggapan, materi pelajaran yang diajarkan di sekolah-sekolah—seperti matematika, sejarah, kimia, fisika, bahasa, dan lain-lain—sebagian besar materinya, dari dahulu hingga sekarang, tidaklah banyak berubah. Jika toh berubah, perubahan itu tidak sangat signifikan. Oleh sebab itu, dalam pembahasan saya ini—mengikuti saran Hermawan Kartajaya—saya ingin lebih menitikberatkan pada context, yaitu bagaimana content itu disajikan dan dikemas sehingga menarik para pengguna buku pelajaran. Lebih jauh, saya ingin sekali buku-buku pelajaran itu tak sekadar menjadi pedoman guru dan murid dalam mempelajari sesuatu. Saya ingin buku-buku pelajaran itu dapat menyenangkan mereka sehingga para guru dan pelajar kita bisa sekaligus gemar membaca.

Untuk meraih keinginan saya tersebut, saya akan menyajikan materi saya ini dalam dua bagian. Bagian pertama akan saya isi dengan perkembangan-perkembangan baru tentang riset otak. Kita semua sudah pasti mafhum bahwa belajar—lebih khusus lagi membaca buku—sangat terkait dengan otak (brain). Apabila kita memahami bagaimana cara kerja otak dan menyesuaikan penyajian dan pengemasan buku sesuai dengan cara kerja otak, saya yakin bahwa kegiatan belajar—khususnya lagi, membaca buku—dapat diselenggarakan secara sangat efektif dan menyenangkan. Di bagian pertama ini, saya akan membahas serba sedikit tentang temuan Roger Sperry dan Howard Gardner berkaitan dengan organ penting bernama otak.[2]

Di bagian kedua, dengan berpijak pasa riset Sperry dan Gardner, saya akan membahas bagaimana menyajikan dan mengemas buku pelajaran yang dapat membuat otak senang. Selama empat tahun (2001-2005), saya telah menulis 24 buku. Buku-buku saya bukan buku fiksi dan bukan buku yang membahas tema-tema yang ringan. Beberapa buku saya—antara lain Mengikat Makna, Andaikan Buku Itu Sepotong Pizza, Quantum Reading, dan Quantum Writing—menjadi bestseller. Saya percaya bahwa salah satu penyebab beberapa buku saya diminati oleh pasar karena saya “mengemas” buku-buku saya tersebut dengan cara-cara yang tidak konvensional. Di bagian kedua ini, saya akan mengisahkan cara-cara saya “mengemas” buku saya. Saya berharap, apa yang saya sampaikan di bagian kedua ini dapat bermanfaat bagi para pengemas (khususnya penerbit) buku pelajaran.

Otak dan Kegiatan Membaca Buku Pelajaran

Riset-riset otak mutakhir menunjukkan betapa membaca itu terkait dengan kebugaran otak.[3] Namun, bukan soal manfaat ini yang akan saya bahas di sini. Saya hanya ingin menunjukkan betapa peran buku pelajaran tidak hanya membantu para siswa untuk belajar secara sistematis tentang materi pelajaran yang ingin dipelajarinya. Buku pelajaran—yang jumlahnya puluhan dan senantiasa berada di dekat mereka ketika mereka belajar—dapat membuat para siswa menyala otaknya. Tentu, sebuah buku akan membantu menyalakan otak seorang siswa apabila buku tersebut benar-benar dapat membuatnya senang dan nyaman.

Memang, belum ada riset khusus tentang apakah buku pelajaran itu menyenangkan atau tidak menyenangkan bagi para siswa. Namun, saya yakin—dengan ditemukannya banyak sisi menakjubkan dari otak kita—buku-buku pelajaran di masa sekarang dapat disajikan sesuai dengan cara bekerjanya otak manusia. Apabila sebuah buku pelajaran dapat disajikan dan dikemas sedemikian rupa sehingga sesuai cara kerja otak, ada kemungkinan para pembaca buku pelajaran dapat lebih senang ketika menjalankan kegiatan membaca.


¨ Disampaikan pada Seminar “Menggagas Buku Pelajaran yang Mencerdaskan”, 15 Agustus 2006, Penyelenggara Direktorat Pendidikan Madrasah, Ditjen Pendidikan Islam, Departemen Agama, Jakarta

[1] Berkaitan dengan soal context dan content ini, saya ingin menyandarkan pandangan saya ke pemikiran Hermawan Kartajaya. Dalam buku Marketing in Venus (Gramedia, 2004) dan buku-buku lain karyanya, Hermawan pernah berkata, “Bumi kini telah menjadi Venus. Dunia Venus adalah dunia yang lebih emosional dan interaktif. Di dunia itu, EQ lebih unggul ketimbang IQ atau—dalam bahasa yang lain—feel lebih penting dari think.

Untuk memenangkan persaingan di Venus, Anda harus lebih banyak bermain di context (how to offer). Content—what to offer—yang bagus adalah suatu keharusan. Namun, content yang bagus tidaklah cukup. Content hanyalah ‘tiket’ untuk masuk ke arena persaingan, bukan untuk memenangkan persaingan. Context-lah ‘tiket’ Anda untuk memenangkan persaingan di Venus.” (Untuk pembahasan praktis soal context dan content ini, lihat, misalnya, Hermawan Kartajaya, Hermawan Kartajaya on Differentiation [Mizan, 2004], khususnya di artikel berjudul “Content is Only Basic”.)

[2] Roger Wolcott Sperry (1913-1994) adalah seorang ahli biologi yang mendapatkan hadiah Nobel dalam bidang fisiologi dan kedokteran. Pada tahun 1960-an, Sperry menemukan cara bekerjanya otak kanan dan otak kiri yang berbeda. Sementara itu, Howard Gardner (lahir pada 1943) adalah seorang profesor di bidang pendidikan di Harvard Graduate School of Education. Gardner terkenal dengan penemuan sembilan jenis kecerdasan yang kemudian diberi nama “multiple intelligences” atau kecerdasan majemuk.

[3] Buku yang sangat bagus yang menjelaskan soal ini adalah Belajar Cerdas: Belajar Berbasiskan Otak (MLC, 2005) karya Jalaluddin Rakhmat. Meskipun tidak membahas secara khsusus soal kaitan membaca dengan otak, buku karya Taufiq Pasiak, Revolusi IQ/EQ/SQ (Mizan, 2003) dan Membangunkan Raksasa Tidur (Gramedia, 2004) juga menyimpan data penting ini. Taufiq Pasiak, misalnya, mengatakan: “Ketika Anda membaca buku, carilah terus kata-kata baru sebab pengetahuan akan kata-kata baru yang Anda temukan di dalam buku sebenarnya merupakan salah satu cara mengolah otak. Baca, sebutkan secara keras dan cari tahu maknanya. Tunggulah beberapa saat, saya yakin otak Anda akan segera menyala.”

Selengkapnya di:

http://www.depag.go.id/images/6-Hernowo.doc

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.